26 Maret 2018

[Blogtour + Giveaway] Drama Mama Papa Muda – Punky Prayitno and Topan Pramukti





Judul Buku : Drama Mama Papa Muda – Kisah-Kisah Renyah Penuh Tawa dan Air Mata
Penulis : Pungky Prayitno dan Topan Pramukti
Penerbit Laksana
Cetakan Pertama Februari 2018
Tebal : 232 Halaman
ISBN 9786024073190

“Bagi Bapak, pernikahan dan rumah tangga adalah kerja sama. Kerja sama untuk sama-sama bahagia.” (hlm. 83)
Awal ditawari oleh team dari Penerbit Diva Press untuk mengulas buku tentang parenting, aku menyetujuinya. Alasan aku menerima tawaran ini adalah karena aku memang sedang membutuhkan bacaan non-fiksi dan butuh asupan untuk tambahan ilmu soal parenting. Aku memiliki seorang putri kecil berusia 3 tahun dan aku ingin mendapatkan ilmu dan sudut pandang dari buku parenting yang aku baca.
Namun, ternyata buku yang aku terima bukan tentang parenting tetapi isinya malah curhatan tentang mama dan papa muda dalam mengarungi rumah tangga mereka yang tidak biasa-biasa saja. 

Apakah aku kecewa? Tidak.
Apakah aku menyukai buku ini? YES! 

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai buku ini, aku ingin mengatakan kalau aku suka banget sama buku ini. Alasannya adalah karena buku ini terasa nyata, terasa dekat, dan rasanya seperti membaca kisah hidupku yang tercermin dan terwakilkan dalam hidup orang lain.

Mengapa aku mengakan hal ini? Karena aku sangat mengerti apa yang dialami oleh pasangan Mbak Pungku dan Mas Topan ini. Sewaktu membaca ucapan mas Topan mengenai terbitnya buku ini, bahwa hal-hal yang mereka tulis dalam buku ini kontroversial dan bisa menimbulkan perdebatan, caci maki dan pem-bully-an dari pihak lain, aku sih sepakat dengan Punky. Ini adalah kisah mereka dan tidak perlu mendapatkan restu atau persetujuan dari orang lain. 

Aku mengatakan aku mengerti adalah karena aku pun pernah mengalami fase “drama pasangan muda” dengan segala masalahnya. Tidak sama persis memang, tapi mirip. Makanya, membaca buku ini sangat memuaskanku karena seolah bagian dari drama keluargaku tertuang di buku ini.
Sebelum aku (ikutan) curhat setelah membaca buku ini, berikut aku ceritakan sedikit isi dari buku “Drama Mama Papa Muda” ini. 

Buku ini diawali dengan pertemuan (kencan) pertama Mbak Pungky dan Mas Topan yang menjadi awal mula segala cerita dalam kehidupan keluarga kecil mereka. Tanpa basa-basi dan cerita yang panjang, secara singkat dan jelas kisah cinta mereka yang mulai bersemi cukup membuat aku yang membacanya tersenyum. So sweet banget. Lagipula nggak perlu panjang lebar membaca tentang kisah asmara mereka karena bukan itu inti buku ini.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian.
Bagian 1 adalah tentang Drama Mama Muda, curhat dari Pungky – sang istri dan sang mama muda. Ada cerita tentang keputusan menikah muda, memiliki anak, dan tentang meraih impian walaupun sudah berkeluarga. Berkeluarga dengan asisten rumah tangga. Hidup tanpa pembantu rumah tangga. Melawan Postpartum Depression.
Bagian ini adalah curhatan seorang wanita yang hidupnya berubah setelah menikah muda, memiliki anak, dan menjadi mama muda, dan problematika rumah tangga. Cerita yang sangat real dan tidak terasa dilebih-lebihkan.


Bagian 2 Drama Papa Muda.
Bagian ini adalah bagian yang paling ingin aku baca pertama kali karena sebagai “suami dan papa muda” aku ingin membaca cerita (penderitaan) yang dialami oleh Mas Topan Pramukti.
Ada beberapa sub judul dalam bab curhatan sang suami dan papa muda ini, di antaranya “Kepada para suami, saya mohon bacalah sebentar. Pergilah Bu, bahagiakan dirimu. Sini nak, sama bapak. PMS selalu benar.”
Aku paling penasaran akan isi curhatan mas Topan tentu saja karena aku adalah lelaki, suami, dan juga seorang papa muda. Apa sih yang dialami oleh mas Topan. Mirip dengan kisahku nggak ya? Aku menyukainya karena banyak yang mirip , namun sayangnya kurang banyak. Haha.


Bagian 3 Drama Tumbuh Kembang.
Bab ini lebih banyak didominasi oleh curhatan mengenai anak mereka, Sujiwo.
Bagian tiga ini berisi pembahasan “Ibu Bangga. Drama penyapihan. Tentang berbagi dan memberi. Jangan pintar, jangan shalih, Jangan berguna bagi nusa bangsa. Mimpi.”
Aku suka karena dalam kehidupan seorang mama dan papa muda, selalu ada hal menarik yang menjadi perdebatan jika berhubungan dengan “membesarkan seorang anak”. 

Bagian 4 Drama Dua Hati
Ah, bagian ini sebenarnya bagian yang akan membuat perasaan campur aduk karena menyangkut tentang suatu hal yang tidak kita harapkan terjadi, namun mau tdak mau ada kemungkinan. Beberapa hal yang dibahas antara lain, “Ibu Macam apa kamu. Urusan rumah tangga kami bukan konsumsi public. Ateis paling sederhana. Karena hati selalu punya jalan sendiri. Menerima kita apa adanya. Menikah itu indah.”

Kalian penasaran tentang hal-hal lebih rinci di setiap bagian? Makanya baca dong. Hehe. 
Membaca buku yang diambil dari kisah penulisnya yang merupakan mama papa muda ini seolah mengingatkanku kembali akan kisah hidup yang aku jalani. Ada orang lain yang menjalani kehidupan yang mirip, bahagia dan susahnya, perjuangannya, dan bahwa ada penyelesaian akan semua masalah yang terjadi. 

Sebenarnya, aku ingin membaca lebih banyak dari sudut pandang sang suami karena aku adalah seorang suami dan papa muda. Soal PMS yangselalu benar itu setuju banget. Kadang tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ada badai. Apalagi aku LDR selama 5 tahun lebih dan setiap mendekati PMS atau tiba masa PMS, pikiranku seolah-olah ingin meledak dan ingin tidur nyenyak saja melupakan dunia. Haha.

Ada pula bahasan tentang Postpartum Depression. Sebuah fase yang bisa terjadi kepada perempuan mana saja setelah melahirkan. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi suami yang menghadapi drama ini. Memang sih, istriku bukan mengalami postpartum depression ini. Aku tidak tahu apakah sama atau berbeda masalah yang aku hadapi. Di tahun keempat usia pernikahan kami dan di usia menjelang tiga tahun anak kami, hubungan kami mulai menunjukkan gejolak akibat hubungan jarak jauh. Hal ini mulai terasa di akhir kehamilan istriku, kelahiran anakku, dan perjuangan istriku membesarkan anak dan berjuang seorang diri tanpa ada aku yang selalu menemani. 
Istriku mengalami perubahan suasana hati yang sangat cepat berubah. Aku harus menghadapi perubahan suasana hati istri yang selalu berubah-ubah, fase depresi, fase ingin menyakiti diri sendiri, menyakiti anak kami, dan fase ingin bunuh diri.

Aku tidak bangga akan hal ini. Aku pun tidak mengatakan aku mengeluh. Aku hanya ingin berbagi pengalaman. Selama menghadapi hal ini dalam kondisi pernikahan jarak jauh, initerasa sangat berat bagi kami. Tapi, seperti Mas Topan, ini bukan hanya perjuangan istri, ini pun adalah perjuangan suami, bersama-sama melewati masa ini dan menguatkan perasaan kami yang tanpa kami sadari semakin jauh akibat jarak jauh. Ini berat tapi kami tidak mau menyerah.
Eh, kok aku malah curhat ya?
Maafkan.

Nah, makanya aku katakan bahwa aku sangat mengerti apa yang diceritakan dalam buku ini. Aku sangat memahami perasaan Mbak Pungky dan Mas Topan karena aku pernah mengalami hal yang mirip dengan kisah mereka. Karena hal inilah makanya aku sangat menyukai kisah di dalam buku ini dan sangat bersyukur diberikan kesempatan oleh penerbit Diva Press untuk mengulas buku ini.

Sungguh sebuah buku yang bagus dan penuh makna. Sayang sekali jika kalian melewatkan membaca buku ini.

“Jiwo nggak usah takut memimpikan apapun. Kalau ada seseorang yang mungkin nanti akan ngeluarin komentar sinis soal mimpimu, kemungkinan besar orang itu Bapak.” – hal.168
Ngomong-ngomong, aku sangat tertohok akan kutipan di atas.

---



GIVEAWAY TIME


Aku sangat menyukai buku ini.
Buku ini bisa memberikan gambaran akan kehidupan lain dari apa yang mungkin kita ketahui dan harapkan dari sebuah pernikahan. Buku ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja, baik yang masih sendiri, siapapun yang berniat menikah dalam waktu dekat, seorang yang sudah menikah dan mempunyai anak, atau bagi orang dewasa yang sudah banyak mengecap asam garam kehidupan pernikahan.
Ada yang berminat memperolehbuku ini secara gratis?
Mau? Kebetulan ada satu buku yang akan aku berikan secara gratis buat kalian ini. Berikut syarat dan ketentuannya, ya.
  1. Domisili di Indonesia
  2. Follow Twitter @divapress01, IG @penerbitdivapress, dan like FB Penerbit Diva Press (wajib). Selain itu pula boleh juga follow Twitter @sulhanhabibi dan IG @sulhanhabibi punyaku ya. Mari berteman.
  3. Bagikan tautan giveaway ini di media sosial. Mau mention saya dan penerbitnya atau tidak, bebas.
  4. Tulis nama, akun Twitter/IG, dan domisilimu di kolom komentar, diikuti jawabanmu untuk pertanyaan berikut:
“Bagaimanakah tanggapan kalian mengenai “Pernikahan Jarak Jauh”? Jika kalian dihadapkan akan kenyataan bahwa kalian harus terpisah dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan, apa yang kalian lakukan?”

Periode giveaway ini dibuka selama satu minggu ya, mulai dari tanggal 26 Maret sampai dengan tanggal 1 April 2018. Pengumuman akan aku posting di sini selambat-lambatnya tanggal 3 April 2018.
Nah, tidak susah, kan? Selamat mencoba dan semoga beruntung, ya.
Terima kasih.

---------------------------------------------oOo-----------------------------------------------

UPDATE PEMENANG

Terima kasih banyak atas partisipasinya dalam giveaway ini.
Walaupun hanya 10 orang yang ikut, namun aku tetap senang dan tertarik dengan bermacam pendapat tentang hubungan jarak jauh.
Tidak ada yang salah dengan pilihan hidup masing-masing.
Tidak ada penyelesaian masalah dengan cara yang sama untuk masalah yang sama untuk beberapa orang.

Nah, aku bingung nih menentukan pilihan.
Setelah membaca jawaban dan juga memilih lewat random.org, terpilihlah pemenangnya.

Jeng...Jeng...Jeng...

Selamat kepada

HAMDATUN NUPUS
Twitter/IG : @hamdatunnupus

Aku akan menghubungi via IG dan/atau twitter.
Mohon direspon dalam waktu 2x24 jam ya.

Terima kasih.

6 Maret 2018

[Book Review] Alctaraz Vs The Evil Librarians series - Brandon Sanderson


Uneg-Uneg ini adalah tentang seri Alcatraz Vs The Evil Librarians karya Brandon Sanderson yang sebenarnya kisah nyata dari Alcatraz Smedry yang menceritakan tentang hidupnya sendiri atau disebut Autobiography diterbitkan menjadi sebuah kisah fantasi padahal bukan dan di Indonesia terjemahannya diterbitkan oleh @mizanFantasi dengan total 5 buku dan sudah diterbitkan semua tapi pengennya sih ada kelanjutannya karena lima buku ini tidak cukup buatku.

Wuiiih.. panjang ya?
Kalian baca dalam satu tarikan nafas nggak? Kalau nggak, tolong ulangi baca dalam satu tarikan nafas. Menantang lho! Haha #iseng

Sepertinya akan pajang nih pembahasannya, tapi aku berharap kalian tidak bosan. Soalnya pengen ngoceh banyak, panjang lebar dari dua sisi, dari sisi bukunya dan sisi penerbitan oleh Mizan Fantasi dan team.
Pertama aku aku bahas dari penerbitan seri ini oleh @MizanFantasi dan team.
  1. Aku suka sama cover seri Alcatraz ini yang penuh warna dan ilustrasi yang cakep. Ada jenis cover yang awalnya kita menganggap bagus tapi lama kelamaan terlihat biasa saja dan kurang menarik, namun seri Alcatraz dari MF ini justru kebalikannya. Awal lihat teaser covernya aku menganggap terlalu kekanakan, tapi semakin lama terlihat semakin bagus dan keren. Aku jujur lho ini, bukan review berbayar. Oleh karena itu, terima kasih buat yang desain sampulnya yang keren ini. SUKA!
  2. Terima kasih buat mbak Dyah @dblueholic dan mbak Nana @bookzfreak yang menerjemahkan seri ini sampai selesai. Terjemahannya enak dan mengalir. Aku pun terkesan akan pemilihan kata-kalimat untuk menyesuaikan lelucon nan absurd di buku ini. Aku tahu itu tidak mudah mencari padanan kata yang sesuai atau kalimat pengganti tanpa mengurangi kenikmatan membacanya.
  3. Aku suka buku ini diterbitkan dalam waktu singkat langsung 5 buku tanpa harus berjamur menunggu lama. Aku suka akan keputusan Mizan Fantasi dan team untuk hal ini karena kadang hype atau rasa sebuah cerita bisa berkurang karena lama menunggu kelanjutan kisahnya. Lagipula sebuah seri yang sudah selesai tidak perlu menunggu lama (sampai setahun atau lebih) untuk diterbitkan lagi. Apalagi tipe pembaca di Indonesia, tunggu lengkap baru beli/baca. Lagipula cerita seru, nunggu terjemahan lama, selain lupa ceritanya, jangan salahkan jika pembaca lari ke edisi English-nya.
  4. Gitu aja sih. Kalau ada tambahan paling edit caption. Haha!

Panjang ya? Huahahaha..
Peduli amat. Nambah deh ocehannya yang membahas tentang seri ini keseluruhan dan tentang si Brandon Sanderson si jenius yang suka menyiksa pembaca dan aku pengen baca buku karya dia lainnya contohnya Mistborn series ((lagi suka nulis panjang-panjang tanpa tanda baca!)).

Apa yang biasanya kalian harapkan dari akhir suatu kisah?
Pertama-tama aku katakan kalau ending buku kelima (seri terakhir) Alcatraz ini sangat jauh dari bayanganku. Akhirnya itu mengguncang jiwa dan perasaan berkecamuk karena kejadian yang begitu tiba-tiba dan diceritakan dengan sesingkat mungkin tapi efeknya “BOOOM…!!!” pengen ngumpat “WHAT THE…..!!”

Eh, kok aku menceritakan bagian ending dulu?
Ya, alasannya biar kalian penasaran. Jika sang penulis, Alcatraz Smedry (bukan si Brandon Sanderson – yang mengalami kelainan jiwa) gemar menyiksa pembacanya, mengapa aku tidak melakukan hal yang sama dengan menyiksa kalian dengan rasa penasaran? **Haha.. rasakan tuh perasaan tersiksa**

Suka baca buku biografi? Atau suka baca fiksi apalagi fantasi?
.
.
Nah, seri Alcatraz Vs The Evil Librarians ini cocok buat kalian yang menyenangi biografi namun fiksi apalagi dengan sentuhan fantasi tidak sembarangan. Buku "Alcatraz Vs. The Evil Librarian" ini sebenarnya adalah biografi Alcatraz Smedry yang disamarkan menjadi buku fiksi fantasi dengan nama samaran Brandon Sanderson.

Kalian tahu nggak kalau semua pengetahuan di dunia ini sudah dimanipulasi oleh para Pustakawan? Kenyataan yang kalian ketahui semua hanyalah kebohongan belaka.
Buku ini berbahaya, makanya disamarkan menjadi kisah fantasi.

Dunia yang kita tinggali ini terdiri dari Dunia Merdeka dan Dunia Sunyi. Dunia Sunyi adalah dunia yang selama ini kita kenal dan dikuasai oleh para Pustakawan.

Buku ini aneh, keren, memiliki ide jenius dan cara penulisan yang juga unik. 
Buku ini absurdnya lucu, unik, kocak, jayus, dan penuh hal-hal aneh tapi memukau. Jujur, aku merasa buku ini mungkin nggak cocok buat beberapa orang (yang normal) karena ke'absurd'annya dan mungkin gaya berceritanya.

Alcatraz ini keluarga Smedry yang memiliki bakat atau kemampuan "merusak barang" dan cenderung berbuat keributan dan menjelaskan hal-hal tidak penting.

Selain bakat Alcatraz, yang namanya seperti nama penjara terkenal, yang tampak tidak berguna, ada pula bakat/kemampuan lainnya yang bakal kalian anggap lebih "nggak guna”.
Sebut saja bakat bermuka jelek ketika bangun tidur, bakat tersandung terguling-guling,
Awalnya aku merasa bakat kekuatan dibuku ini semacam lelucon.
Namun, begitu bakat itu ternyata sangat berguna, aku langsung tertawa dan berujar, "GILA JENIUS BANGET INI PENULISNYA!" 😂

Buku ini memberikan rasa senang dan membuat tertawa dengan caranya sendiri. Selain Alcatraz suka mengalihkan cerita utama yang sedang seru dengan perkataannya yang tidak penting, Alcatraz akan memuji dirinya sendiri dan mengejek kalian yang suka cerita roman, suka membaca cerita seri bukan dari buku pertama, juga suka menipu kalian dengan perkataannya yang suka melantur kemana-mana.

Buku Satu, si Alcatraz berusaha meyakinkan pembaca bahwa dia bukan pahlawan. Tapi menunjukkan sikap heroiknya.

Buku kedua dia meminta pembaca tidak mempercayainya.

Buku ketiga, dia mengakui dan sering menyebut dirinya keren. Malah mulai besar kepala.

Buku keempat, justru dia menyebut dirinya sendiri dan meyakinkan pembaca bahwa dia BODO, yang saking bodohnya, mengeja kata bodoh saja salah menjadi bodo.

Apa sih maunya si Alcatraz ini? Pengen digampar deh. Hahaha.

Si Alcatraz semakin kurang ajar. Selain mengkambing hitamkan Brandon Sanderson, dia mengakali pembaca dan masih sering mengejek pembaca. Apalagi buat yang suka baca ending buku di awal.

Lelucon di buku ketiga terkesan mirip sama lelucon absurd buku pertama dan kedua. Sempat merasa bakal terjadi pengulangan, namun justru si Brandon Sanderson - yang dicurigai gila dan sering bicara sendiri - membuktikan kejeniusannya lagi.

Pernah nggak sih kalian membaca buku sampai membolak-balik halaman nya dan mengecek urutan nomor halaman karena mengira salah cetak, halaman kurang, atau ada bagian yang terlewatkan?

Buku ini kurang ajar karena membuatku melakukan hal tersebut.
Tahu nggak kenapa?
Karena si Alcatraz BODO ini memulai buku ini dari BAB DUA. Aku sampai bolak-balik halaman nyari Bab SATU nya.
Pengen nampar orang nggak sih?
Dia berdalih bab 1 itu sangat penting dan rahasia, juga seru, dan dia menyebutkan hal tersebut kepada kita sebagai pembaca.

Buku ini adalah buku dengan Bab terbanyak sedunia karena jumlah bab-nya tak terhingga ditambah 1.

Kok bisa? Ya maunya si Smedry ini.

Alcatraz.
Kamu kurang ajar. Hahaha!
Sungguh buku yang unik, menyegarkan, dan menyenangkan.

Buku kelima ini terasa agak berbeda dengan buku sebelumnya. Absurd, lelucon, dan jeniusnya kembali dengan hal yang berbeda dari sebelumnya. Naik tingkat ya, bukan jenis pengulangan jokes atau ke-absud-an dari buku sebelumnya. Di sinilah kejeniusan sang master *troll pembaca* semakin dikukuhkan.

Masih dengan kelakuan keluarga Smedry yang seenaknya, ada pula bakat baru, penamaan BAB yang begitulah, dan penyiksaan dalam bentuk lelucon baru. Coba angkat kakimu, ada tulisannya nggak? Nah, kalau kamu mengerti leluconku ini, itulah jenis penulisan baru yang ditemukan Alcatraz dan dibuat lelucon olehnya.
Buku kelima ini langsung melanjutkan kejadian di buku keempat. Ceritanya berlangsung dalam tempo yang cepat tapi masih diselingi celotehan si Al yang kadang kacau.

Si Al ini sudah mewanti-wanti untuk tidak mempercayainya, mengatakan dirinya bukan Hero, mengatakan dirinya pembohong, pengecut, dan lainnya. Mungkin si Al ini lelah menuliskan kisahnya sehingga jeda antara buku 4 dan 5 ini berjarak 6 tahun. Entah si Al lelah, atau tidak tega (tidak sabar) mengakhiri kisahnya sendiri, aura buku kelima ini lebih gelap dari buku-buku sebelumnya )judulnya saja ada kata DARK #eh nggak ada hubungannya kynya).

Yah, intinya Brandon Sanderson ini jenius dan bersiaplah disiksa olehnya. Disiksa oleh keabsurd-an ceritanya, disiksa oleh leluconnya, dan disiksa oleh bagaimana dia mengakhiri buku ini.

Kata dia sih, pembaca itu suka disiksa. Yes! Aku suka disiksa oleh kisah Al, tapi kan NGGAK GINI JUGA AL!! Kamu berhutang banyak buat kami. Haha! Camkan itu.

Bastille!! Tolong tampar si AL kampret ini!!
.
.
.
Jadi, inti ceritanya apa?
Ya intinya Keluarga Smedry melawan Para Pustakawan Durjana. Biar lebih greget, mending baca sendiri. Haha.




10 Oktober 2017

[Short Story] ALI Sang Penjahit


*alkisah sebuah cerita*


Dahulu kala, entah tahun berapa, seorang anak laki-laki merantau mencari kerja untuk menyambung hidup. Anak laki-laki itu bernama ALI. Dia tidak memiliki sanak keluarga yang bisa dia datangi atau membantunya dalam mengarungi hidup ini.

Ali sosok seorang anak laki-laki yang kurus dan tampak sakit karena beban hidup yang harus dia tanggung di umur semuda itu. Ali berumur 9 tahun kalau kamu ingin tahu.

Berbagai tempat telah ia datangi, namun tidak ada yang mempekerjakannya. Siapa sih yang membutuhkan tenaga seorang anak kecil yang (tampak) tidak mampu melakuka apa-apa?

Malam semakin larut, Ali pun merasa putus asa. Tanpa arah dia pun berjalan. Hujan deras mengguyur. Perutnya lapar. Badannya kedinginan.

"Ya Tuhan. Di mana kah aku bisa berteduh?" Ali merasa sangat sedih. Kaki lemahnya terus melangkah tanpa tujuan, hingga dia melihat tempat berteduh di depan kios penjahit yang (sepertinya) masih ada penghuninya. Lampu di dalam ruangan terlihat masih menyala. Mungkin ada orang baik hati mau memberinya pekerjaan, menumpang tidur hanya untuk malam ini, dan beruntung mendapatkan makanan.

Dengan hati yang penuh doa dan harapan, dia mengetuk pintu kios penjahit tersebut. Tampak plang nama penjahit "Tampan Taylor" dengan lampu yang semakin buram.
"Ah, mungkin lampunya akan mati beberapa hari lagi" Ali berpikir dan melanjutkan ketukannya ke pintu kios sang penjahit Tampan.

Bukan...
Bukan...
Ini bukan cerita "Tampan Taylor" yang pernah kalian saksikan filmnya atau baca bukunya. Ini adalah "Tampan Taylor" dalam kisah Ali yang akan mengubah hidup Ali untuk selamanya.

Ketika ketukan keenam, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari arah dalam. Ali merasa senang. Ada harapan untuknya. Dengan tatapan penuh harap, dia melihat seorang kakek tua membukakan pintu.
Mata sang kakek menunjukkan ekspresi terkejut dan iba melihat sesosok anak laki-laki yang masih kecil dan kurus tampak kedinginan, pucat, dan sakit.

Sang kakek penjahit (yang dulu tampan ketika masih muda) mempersilahkan Ali masuk. Sang kakek memanggil istrinya yang masih terlihat cantik (sejak muda sampai sekarang) dan menyuruhnya untuk mengambilkan handuk, selimut, dan makanan.

Tanpa bertanya apa pun kepada Ali, sang Kakek dan Nenek menyuruhnya mandi, berganti pakaian, dan menyuruhnya makanan.

Setelah Ali merasa hangat dan kenyang, Ali menceritakan kisah hidupnya kepada sang kakek dan nenek. Dia terus bercerita tanpa henti walaupun sang kakek dan nenek tidak bertanya apa pun kepadanya. Setelah mengucapkan rasa terima kasih yang sangat besar dan sungguh-sungguh, Ali memohon kepada sang Kakek dan Nenek untuk membiarkannya menumpang malam ini saja. Ali tidak memiliki tempat berteduh dan membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup.
Ali tidak ingin mengemis. Ali tidak ingin hidup dalam belas kasihan orang lain. Ali ingin mandiri dan mengubah nasibnya sendiri.

Sang Kakek dan Nenek dengan senang hati memberikannya tumpangan. Sang Kakek pun bercerita bahwa mereka sangat senang Ali mengetuk pintu mereka malam ini. Mereka sudah lama mendambakan anak, namun hingga usia lanjut, Tuhan belum memberikan mereka anak selama 40 tahun pernikahan mereka.
Sang Nenek pun mengatakan bahwa Ali mungkin anak yang dikirimkan Tuhan untuk mereka. Mereka bahkan meminta Ali menjadi anak mereka dan tinggal bersama mereka hingga mereka meninggal.

Ali tentu saja sangat gembira mendengar hal tersebut. Ali tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada sang kakek dan nenek. Air mata Ali tidak berhenti mengalir deras. Dia sungguh bahagia. Dia bersyukur kepada Tuhan atas berkah dan nikmat yang diberikan kepadanya.
Ali berjanji akan menyayangi mereka dan membantu pekerjaan di rumah, membantu Kakek dalam usaha menjahitnya, dan membantu Nenek dalam hal apa saja di rumah.

--

Kalau kamu bertanya dari mana sang kakek dan nenek memperoleh baju anak untuk Ali sedangkan mereka tidak memiliki anak seorang pun, maka aku akan memberi tahukan hal ini kepadamu. Sang kakek adalah seorang penjahit. Kebetulan sang Kakek sedang mengerjakan proyek seragam untuk anak Sekolah Dasar. Maka, satu pasang baju seragam yang sudah selesai dijahit, diberikan kepada Ali.
Ali sangat senang memakainya walaupun baju itu berwarna putih dengan celana merah.

--

Singkat cerita.

Ali hidup berbahagia bersama Kakek dan Nenek. Ali sangat menyayangi mereka, begitu pula sebaliknya.
Ali selalu membantu pekerjaan rumah dan bersemangat membantu kakek dalam menyelesaikan pesanan dari para pelanggan.

Ali ternyata menaruh minat yang sangat besar terhadap keterampilan menjahit. Jika sebelumnya Ali hanya membantu mengambilkan kain, benang, jarum, atau gunting, perlahan-lahan dia bisa membantu menggunting atau memasang kancing baju.

Sang kakek pun mengajarkan Ali cara menjahit.
Ali sangat cekatan. Hasil karya awal jahitannya cukup memuaskan. Cukup kuat walaupun belum rapi.

Sang kakek sangat senang, hingga dia sangat bersemangat mengajarkan Ali menjahit.

Enam tahun telah berlalu.
Ali sudah berumur 15 tahun dan sangat mahir menjahit. Hasil karya baju, celana, jas, atau busana yang dia hasilkan sangat bagus dan kuat.

Ketika sang kakek meninggal, Ali meneruskan usaha jahit sang Kakek ditemani sang nenek yang juga semakin lelah. Selang beberapa bulan, sang Nenek menyusul kakek ke alam baka.
Ali sangat sedih.

Ali mewarisi semua kekayaan sang Kakek dan Nenek, termasuk menerusakan usaha menjahit sang kakek.
Akhirnya, Ali mengganti nama "Tampan Taylor" menjadi "Ali Taylor".
Awal usaha Ali tidak begitu berhasil. Bahkan berbulan-bulan tidak ada satu pun pelanggan yang datang untuk menjahit pakaian kepadanya. Ali hampir putus asa, namun tidak akan menyerah. Demi kakek dan nenek. Demi masa depannya.

Akhirnya, suatu pagi di hari Minggu, datanglah seorang laki-laki dan perempuan yang berusia sekitar 17-18 tahun. Mereka akan lulus SMA dan ingin menjahit kemeja putih untuk acara kelulusan mereka.
Pemuda itu bernama Mizuki, seorang pelajar keturunan Jepang. Sedangkan yang perempuan bernama Santi, asli Jawa.
Dengan gembira Ali menyelesaikan pesanan kedua orang itu dalam waktu satu minggu. Dia menjahit dengan sepenuh hati dan melakukannya dengan penuh semangat.

Mizuki dan Santi sangat puas melihat hasil tangan Ali.
Mereka mengenakan kemeja buatan Ali dalam upacara kelulusan mereka. Mizuki dan Santi tampak gagah dan cantik dalam balutan pakaian yang dijahit Ali.
Semua mengagumi hasil karya Ali. Teman-teman mereka yang lain, bahkan para guru bertanya di mana mereka membuat baju yang sangat bagus tersebut.
Mizuki pun mengatakan bahwa dia membuat baju ini di sebuah kios jahit "Ali Taylor".

Mizuki mengatakan yang memiliki usaha itu adalah ALI-san. Dia pun mengatakan ALI-san sangat ramah, hasil jahitan pakainnya sungguh luar biasa.

Sejak saat itu, Ali kebanjiran pesanan pakaian. Ali tidak bisa mengerjakannya seorang diri. Akhirnya dia merekrut beberapa pekerja untuk membantunya.

Berkat Mizuki yang selalu memanggilnya ALI-san, kini Ali sangat sukses. Beberapa tahu kemudian, dia membuka pabrik pakaian dengan merk "ALISAN".
Bagi para pekerjanya dan para pelanggan awalnya, Ali lebih dikenal dengan julukan Ali-san. Semua berkat Mizuki.

Hingga kini, usaha Ali berkembang sangat pesat. Bahkan pakaian hasil karyanya sudah bisa kita temukan di outlet-outlet, butik, ataupun departement store. Siapa sih yang tidak mengenal pakaian dengan merk "ALISAN" yang murah dan berkualitas tersebut.

Aku yakin kamu tahu :)

---

the end - alias - TAMAT

--

Eh, kalau kamu bertanya-tanya apakah ini kisah sukses awal pakaian ALISAN yang identik dengan kemeja para pegawai kantoran?

Aku akan menjawab TIDAK.

Ini bukalah kisah sebenarnya tentang pakaian bermerk ALISAN.
Ini hanyalah rekayasa dan cerita karangan yang aku buat di sela-sela kebosanan.
Cerita ini terlintas ketika aku memakai baju ALISAN hari ini untuk ke kantor.

Namun, jika kamu tidak percaya dan orang yang kamu ceritakan juga tidak percaya. Terserah kamu sih. Yang penting aku sudah memberitahumu.

Katamu kisah ini inspiratif?
Boleh saja kamu beranggapan seperti itu. Suka-suka kamu. Aku titak melarang.

Kamu bilang cerita ini bagus, jayus, atau mengada-ada?
Terserah kamu juga sih.
Yang penting aku menuliskan cerita yang terinspirasi dari kisah yang tidak nyata saja sih.

Hahahaha...

Akhir kata, siapa pun yang membaca cerita ini semoga terhibur.
Jangan serius ah bacanya.
Lha, wong, aku menulis cerita ini dalam keadaan tertawa kok.

***maaf ya kalau jayus atau garing.
salam baju ALISAN :)


NB : Cerita ini aku buat tepat setahun yang lalu dan pernah aku posting di beranda Facebook-ku.
Sebuah cerita spontan yang dengan susah payah aku ketik di samrtphone.
Membacanya sekarang membuatku tertawa, "Bisa ya aku menulis cerita jayus seperti ini?"

24 Agustus 2017

[#cumangomong] Aku dan Hadiah Buku





Sebuah cerita tentang AKU dan BUKU.

Buku-buku yang ada di foto ini adalah sebagian dari buku-buku yang aku dapatkan dengan gratis (hadiah giveaway, voucher buku, dan kerjasama dengan beberapa penerbit untuk mengulas buku).
Aku katakan sebagian karena buku2 yang tampak di foto sekitar 1/3 dari jumlah buku yang aku dapatkan secara ‘gratis’ mulai awal tahun 2016 ketika aku memutuskan untuk kembali membaca buku dan menjadi #bookstagrammer yang mengubah akun IG ku menjadi #bookstagram.
Buku baru terus menerus terbit, baik local maupun buku di seluruh belahan dunia. Buku bagus akan selalu bermunculan. Buku-buku yang kita inginkan dan berada di deretan daftar “Wish lists” tidak akan pernah berakhir.


Kadang timbul keinginan untuk membeli semua buku tersebut, tapi kita sadar itu tidak mungkin. Waktu dan biaya tidak akan memungkinkan.
Tahun lalu termasuk dalam tahun paling produktif aku membaca dan membeli buku. Banyak buku-buku baru yang langsung aku pesan/beli begitu terbit. Namun, karena kebutuhan lain lebih banyak dan mendesak, hal ini tidak mungkin selalu aku lakukan.


Tahun 2017 ini aku lebih bisa menahan diri dalam membeli buku, baik buku baru maupun buku lama, walaupun keinginan membeli buku kadang selalu muncul. Lagi pula, buku-buku yang aku punya masih cukup banyak yang belum dibaca.

Ketika ada buku baru dan bagus akan terbit, akhir-akhir ini aku berpikir dan bertanya kepada diri sendiri sebelum membeli buku baru:


“Wah, ada buku baru dan bagus terbit nih.
Namun, apa buku ini akan langsung aku baca kalau sudah punya atau malah tertimbun?
Apakah buku ini harus langsung aku beli? Ada diskon PO sih, memang harga lebih murah, namun bisa aku tunda untuk beli kan?
Ingat, timbunan masih banyak, jangan terburu-buru dalam membeli sesuatu, dan masih ada stock bacaan.


Uang terbatas, tidak ada dana, dan walaupun dana ada masih ada kebutuhan yang lebih mendesak.

Ingat, buku ini gak akan hilang dalam waktu singkat di peredaran (took buku) hanya karena aku gak langsung membelinya.
Ingat, masih ada waktu dan kesempatan lain buatku dapat buku ini, kalaupun bukan dapat dengan harga murah, siapa tau dapat gratis.”


Aku sering mengatakan hal ini buatku sendiri ketika buku baru terus bermunculan. Kata-kata “siapa tahu dapat gratis” ini terdengar seperti pelit dan berkhayal ya. Tapi, setidaknya ini ampuh untuk mengendalikan diri dan nyatanya beberapa kali terbukti benar.
Bukannya pelit, tapi buku-buku ini bisa menunggu, sedangkan dana yang aku miliki terbatas, dan kebutuhan pokok sehari-hariku tidak.

Nah, untuk memenuhi keinginan akan buku baru inilah aku berpikir bahwa aku harus menemukan suatu cara atau langkah yang cermat agar bias terkabul. Aku memanfaatkan peluang yang ada agar bisa mendapatkan buku yang aku inginkan dengan biaya seminimal mungkin. Prinsip ekonomi banget.
Sekali lagi aku tekankan, bukan berarti pelit tapi karena buku yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan nanti, entah dengan nanti beli sendiri, tapi aku tahu mereka bisa menunggu asal mau bersabar, makanya harus bertindak lebih cerdas.

Jujur, selama ini aku bukanlah “GA hunter” atau orang yang sengaja mencari kuis untuk mendapatkan gratisan. TIDAK! Aku tidak memiliki waktu sebanyak itu. Informasi GA atau kuis atau tawaran kerjasama seringnya berdatangan secara tidak sengaja atau aku mendapatkan info dari teman. Ya, inilah salah satu keuntungan berkecimpung dalam suatu komunitas dengan minat yang sama
Jika ada yang menarik buatku, maka akan aku manfaatkan sebisa dan sesempat mungkin dan berusaha untuk perjuangkan. Memang, tidak selamanya aku menang, namun ketika menang perasaan itu ‘luar biasa’. 

Aku tidak pernah meluangkan waktu khusus untuk melakukan hal ini. Aku hanya memanfaatkan waktu senggang yang ada dan aku lakukan kalau sempat. Kalau gak sempat, ya sudah, lewatkan saja.
Makanya, sejak tahun lalu, buku-buku yang aku dapatkan secara gratis sekitar 75 buku lebih. Entahlah apakah sudah menyentuh angka 100 atau belum, belum pernah ‘benar-benar’ aku hitung. Buku-buku hadiah tersebut sebagian besar sudah aku bawa pulang ke rumah.


Sejak memutuskan bergelut dalam #bookstagram dan beberapa komunitas pencinta buku, aku tahu aku harus siap akan racun yang bertebaran di mana-mana.
Aku pun punya minat besar terhadap buku. Aku tahu bahwa aku harus berjuang untuk mereka
Namun, sekarang aku harus bersabar tidak harus langsung mendapatkan mereka. Mereka bisa menunggu dan aku yakin ada waktu yang tepat aku bisa mendapatkan mereka.


Mungkin ini bisa menjadi pemikiran buat kalian yang menginginkan buku incaran tapi terbatas budget.
Ingat, buku-buku itu tidak harus langsung kalian beli. Bersabarlah.
Jika kalian menginginkan sesuatu, beli lah alau mampu. Namun, kalua belum bias membeli, bersabarlah atau cari cara lain untuk mendapatkan buku tersebut.
Akan ada waktu dan kesempatan kalian bisa mendapatkan buku yang kalian inginkan, baik dengan cara membeli sendiri, membeli lebih murah, kalian dapatkan sebagai hadiah, atau diberikan secara cuma-cuma. Intinya jangan menyerah dan berputus asa.
Kalau kalian punya dana lebih untuk membelinya, itu tentu saja lebih menyenangkan lagi. Tinggal beli tanpa perlu memusingkan dana. Hehe.

Aku ingin mengatakan, aku cukup bahagia melakukan hal ini di waktu luangku dan aku bahagia “cukup handal” dalam hal ini karena bulan Agustus ini, aku mendapatkan 10 buku secara GRATIS dan beberapa sedang aku tunggu paketnya datang. Hehehe.