10 Mei 2016

[Book Review] A Monster Calls (Panggilan Sang Monster) - Patrick Ness




Judul Buku : Panggilan Sang Monster (A Monster Calls)
Penulis : Patrick Ness berdasarkan ide Siobhan Dowd 
Ilustrasi : Jim Kay 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Terbit : Maret 2016  
Tebal : 216 halaman
Ukuran : 16 x 21 cm
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-2081-6

Setiap malam monster itu mendatangi Conor O’Malley. Sang Monster yang merupakan jelmaan Pohon Yew di bukit belakang rumahnya. Monster itu selalu mendatangi Conor pada pukul 00.07. Monster itu menginginkan kebenaran. 

Anehnya, ketika kali pertama didatangi oleh Sang Monster, Conor sama sekali tak merasa ketakutan karena dia pernah melihat yang lebih buruk melalui mimpi-mimpi yang selama ini mengganggunya.

Mimpi-mimpi buruk datang semakin sering sejak sang ibu menjalani pengobatan akibat kanker. Mimpi-mimpi yang selalu berakhir dengan jeritan Conor dan terbangun dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya. 

Semula Conor hanya menganggap kedatangan sang Monster merupakan bagian dari mimpinya. Dia merasa Sang Monster itu sama seperti mimpi-mimpi sebelumnya, namun tidak lebih seram dari mimpi buruk satunya lagi. Namun, semakin lama Conor meragukan bahwa pertemuannya dengan sang Monster adalah mimpi karena selalu ada tanda-tanda keberadaan sang Monster ketika pagi tiba. Tanda-tanda itu berupa potongan ranting, dedaunan, buah ceri, ataupun pohon kecil yang tumbuh di ruang tamu. 

Sang Monster datang karena dipanggil Conor – setidaknya begitulah yang dikatakan sang Monster. Sang Monster akan membuat Conor takut padanya. Sang monster akan menceritakan tiga kisah yang akan mengubah hidupnya, setelah itu Conor harus menceritakan kebenaran yang akan menjadi kisah keempat. Sekali lagi, Sang Monster itu menginginkan kebenaran. Kebenaran yang bahkan Conor tidak ketahui. 

**

Melihat buku ini berseliweran di timeline sosial media-ku membuatku penasaran untuk membaca buku ini. Membaca beberapa ulasan orang lain dan menengok rating yang menjanjikan di goodreads pun semakin menguatkan keinginan untuk segera membaca buku “Panggilan Sang Monster” ini. Akhirnya tanpa pikir panjang aku pun membeli buku ini satu hari sebelum perjalanan kembali ke tanah rantau. 

Aku membaca buku dalam penerbangan dari Lombok menuju Makassar. Selama di pesawat aku membaca buku ini dan tidak terasa pesawat pun mendarat sedangkan buku ini belum selesai aku baca. Aku benar-benar larut dalam kisah Conor. Sesampai di kamar pun aku langsung melanjutkan membaca ‘A Monster Calls – Panggilan Sang Monster’ ini. Penasaran banget untuk mengetahui kebenaran yang ingin ditunjukkan oleh cerita ini.

Sepanjang membaca buku ini timbul perasaan sesak, marah, sedih, perasaan ngeri, takut, dan perasaan lainnya yang bercampur aduk. Setelah selesai membacanya pun masih terus kepikiran akan kisahnya. Membayangkan apa yang dialami dan dirasakan oleh Conor O’Malley itu rasanya bikin sesak di dada. Kalau istilah kekiniannya, buku ini bikin baper. 

Awalnya aku menduga “Panggilan Sang Monster” adalah cerita fantasi biasa tentang seorang anak laki-laki yang bertemu (diganggu) oleh sesosok monster. Mungkin banyak pembaca lainnya yang juga menduga seperti ini. Cerita fantasi yang menceritakan hubungan sang anak dan monster yang lambat laun semakin erat atau bahkan menjadi musuh yang harus ditaklukkan.

Namun ternyata aku salah. Buku ini ternyata lebih dari itu. Panggilan sang Monster adalah cerita tentang hubungan seorang anak dengan ibunya, tentang kasih sayang, tentang kehilangan dan keikhlasan, tentang ketakutan, tentang merelakan, tentang kesedihan, tentang kejujuran, dan sudah pasti tentang hidup. 

Aku suka bagaimana Patrick Ness mengakhiri kisah ini. Ending-nya pas. Ada perasaan hangat dan lega (sekaligus sedih banget) ketika kisah ini berakhir. Kisah ini diakhiri dengan indah karena memang seharusnya kisah seperti ini harus diakhiri dengan cara seperti itu.
Selain itu pula, ilustrasi oleh Jim Kay yang sangat apik menambah nilai tambah buku ini. Ilustrasi hitam putih dengan kesan kelam mampu menggambarkan kengerian yang ingin disampaikan oleh cerita ini. 

Aku tidak akan menceritakan lebih banyak lagi tentang buku ini. Biarlah sebagai pembaca kalian menemukan banyak hal yang sangat berharga dari buku ini. Buku ini sangat layak untuk dibaca dan untuk dimiliki.

Aku beri nilai 5/5 untuk buku ini.


Note:

Aku suka sekali 3 kisah yang diceritakan oleh sang Monster. 

Kisah Pertama : Tentang kisah sang Monster pohon yew mulai datang berjalan.
Kisah Kedua : Tentang seorang pria yang hanya memikirkan diri sendiri, dan dia mendapatkan hukuman yang sangat berat. 
Kisah Ketiga: Tentang pria tak kasatmata yang sudah semakin muak menjadi orang yang tak terlihat.

Selain itu pula, banyak kutipan dan petuah tentang kehidupannya pun begitu mengena di hati. Berikut ini beberapa di antara kutipan keren tersebut:

  “Aku tulang punggung yang menyangga pegunungan! Aku air mata yang ditumpahkan sungai! Aku paru-paru yang bernapaskan angin! Aku serigala yang membunuh rusa, elang yang membunuh tikus, laba-laba yang membunuh lalat! Akulah rusa, tikus, dan lalat yang dimakan itu! aku ular dunia yang melahap ekornya! Aku segala sesuatu yang liar dan tak bisa dijinakkan! Sang monster mendekatkan Conor ke matanya. Aku adalah bumi liar ini, dan aku datang untukmu, Conor O’Malley.”
   
“Tidak melulu ada pihak yang baik. Sama halnya bahwa tidak melulu ada pihak yang jahat. Sebagian besar orang berada di tengah-tengahnya.”
  
 “Kau tidak menulis hidupmu dengan kata-kata, ujar sang monster. Kau menulisnya dengan tindakan. Apa yang kaupikirkan tidaklah penting. Satu-satunya yang penting adalah apa yang kaulakukan.”
   
“Kisah adalah makhluk liar. Begitu kau melepaskan mereka, siapa yang tahu kekacauan apa yang mungkin mereka ciptakan?”

 “Keyakinan adalah separuh dari penyembuhan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar