9 Agustus 2016

[Book Review] Norwegian Wood - Haruki Murakami


Judul Buku : Norwegian Wood
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Penerjemah : Jonjon Johana
Penyunting : Yul Hamiyati
Perancang Sampul : Deborah Amadis Mawa
Cetakan ketujuh, April 2016
Tebal iv + 423 halaman
ISBN 978-602-6208-94-1

 *blurb*

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut dalam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa—hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

 --
"Kamu jangan mengasihani diri sendiri. mengasihani diri sendiri itu adalah perbuatan orang hina."

Hmm...

Aku berpikir cukup lama untuk merenungkan apakah buku ini aku sukai atau tidak. Bukan cuma ketika selesai membaca buku ini, namun aku pun memikirkannya ketika membaca sampai pertengahan buku.


Aku memutuskan kalau aku menyukai buku ini.
Buku ini sepertinya bukan tipe buku yang mudah disukai kebanyakan orang.
Buku ini cenderung depresif dan jauh dari unsur menyenangkan.
Buku ini lebih cenderung menceritakan psikologis manusia, masalah kejiwaan tokoh-tokohnya, dan aku malah berpendapat semua tokoh dalam buku ini memiliki masalah psikologis.

Haruki Murakami bisa dikatakan menulis Norwegian Wood dengan baik sekali.

Kisah yang ditawarkan terasa seperti kehidupan sehari-hari seorang remaja normal (atau bisa dikatakan tidak normal) semasa kuliah yang penuh kebebasan (merokok, minum, berkencan, berhubungan badan). Tokoh Toru Watanabe yang tidak suka bergaul, pendiam, jatuh cinta pada Naoko yang merupakan pacar sahabatnya dan merupakan cinta pertamanya terasa nyata dan bisa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Naoko sang tokoh perempuan yang tanpa disangka memiliki masalah yang sangat kompleks pun dapat digambarkan dengan sangat baik.
Midori, sosok yang terlihat ceria namun memiliki ketakutan dan harapan terhadap pertemanannya dengan Watanabe.
Rieko, teman Naoko di pondok pun digambarkan sebagai sosok yang berperan sebagai kakak dan memiliki permasalahan yang masuk akal dengan tekanan yang sangat mungkin dialami oleh orang di kehidupan nyata.
Nagawasa, teman asrama Watanabe yang mengajarkannya kehidupan yang lebih 'berwarna', yang memiliki kehidupan bebas dan tidak mau terikat pun bisa dengan mudah kita temui dalam sosok orang di sekitar kita.
Bahkan tokoh-tokoh lainnya pun terasa begitu lekat dalam kehidupan sehari-hari, karena memang Norwegian Wood ini seperti kehidupan remaja seseorang yang takut menghadapi kedewasaan (bisa dikatakan seperti ini).

Well, aku tekankan lagi bahwa buku ini cenderung kelam walaupun dasar cerita ini adalah kisah cinta. Bahkan buku ini pun ternyata ada unsur dewasanya (cukup kaget sih, karena gak nyangka sebelumnya ada hal ini). Vulgar? Lumayan sih namun sangat masuk ke dalam inti cerita buku ini.

Buku ini selain berkisah tentang 'cinta', juga berisi masalah psikologis para tokohnya. Masalah kejiwaan para tokohnya entah mengapa, bagiku malah terasa masuk akal dan 'sangat' manusiawi.
Aku malah cenderung berempati sama mereka semua, alih-alih membenci mereka. Aku berpikir, apakah para pemuda Jepang yang memiliki kecendrungan bunuh diri memiliki masalah psikologis seperti yang ada dalam buku ini??

Saat membaca buku ini pula lah aku berpikir mengapa agama itu ada. Mengapa percaya kepada Tuhan dan taat beribadah itu perlu. Ada bagian hati manusia yang perlu diisi dari kehampaan.
Kehampaan yang mungkin tidak bisa dijelaskan.

Ah, entahlah.
Aku bingung mendeskripsikan perasaanku terhadap buku ini.
Aku tidak merasakan kegembiraan membaca buku ini, namun mendapatkan suatu perasaan yang 'berbeda' yang (lagi-lagi kukatakan) susah untuk dijelaskan.

Awalnya aku bingung apakah aku menyukai buku ini atau tidak.
Setelah memutuskan menyukai buku ini, aku bingung memberikan berapa bintang. Apakah 3 atau 4.
Setelah memutuskan 4 bintang, aku berpikir apakah nilainya 4 atau 4,5 dari 5 bintang.
*lha? Trus piye??

Ah, semakin aku memikirkan buku ini, semakin aku menyukai buku ini.
Aku menyukai buku ini, namun dengan cara dan perasaan yang berbeda dari buku lainnya...

2 Agustus 2016

[Book Review] 2 in 1 Fakhrisina Amalia – ‘PERSONA’ dan ‘HAPPINESS’



Persona + Happiness
Awal mula aku tertarik untuk membaca karya Fakhrisina Amalia adalah karena membaca ulasan beberapa blogger dan juga pembaca lainnya yang mengatakan bahwa novel ‘Persona’ adalah karya terbaik sang penulis sampai saat ini.

Membaca sinopsisnya pun sebenarnya tidak membuatku begitu tertarik untuk ngebet segera membaca buku ini, namun rasa penasaran itu masih saja terasa apabila melihat buku ini di rak toko buku. Hingga pada akhirnya aku memasukkan ‘Persona’ dalam wishlist-ku dan menjadi salah satu buku yang pasti akan aku beli ketika aku memenangkan voucher belanja buku di suatu toko buku besar dan terkemuka di Indonesia (yaelah, sebut saja Gramedia, Bie!)

Nah, setelah membaca Persona, aku merasa suka dengan tema yang diangkat (cukup terasa pengaruh manga-anime dalam cerita ini, apalagi nama salah satu tokohnya Altair, orang Jepang) dan aku suka cara Fakhrisina menuliskan ceritanya. Cara berceritanya asyik dan tanpa terasa aku pun menyelesaikan buku ini Cuma dalam beberapa jam saja.

Penasaran akan buku lainnya, aku pun berniat untuk membaca ‘Happiness’ karena cukup tertarik tema yang diangkat. Membaca ulasan tentang buku ini pun rata-rata positif sehingga ketika berkesempatan ke toko buku minggu lalu, aku langsung membeli buku ini.

Baiklah, setelah bercerita tentang awal ketertarikanku membaca dua novel karya Fakhrisina Amalia, aku akan membahas secara singkat pendapatku akan kedua buku ini. Pendapatku ini lebih tepatnya disebut perasaanku setelah membaca buku ini sih sebenarnya.
Mulai saja ya.
 

Judul : Happiness
Pengarang : Fakhrisina Amalia
 
Penyunting : Rina Fatiha 
Desain Sampul : Teguh Tri Erdyan 
Penerbit : Ice Cube (imprint Penerbit KPG) 
Cetakan Pertama, Agustus 2015 
Tebal xi + 223 halaman 
ISBN 978-979-91-0907-1

*blurb*

“Berarti nggak masalah, dong, kalau Ceria masuk MIPA tapi ambil Biologi?”

“Bisa aja, sih. Tapi kalau kamu tanya Mama, yang banyak hitung-hitungannya itu lebih spesial. Nggak sembarang orang bisa, kan?”


Bagi Mama yang seorang dosen Matematika, hitung-hitungan itu spesial. Mama selalu membanding-bandingkan nilai rapor Ceria dengan Reina—anak tetangga sebelah yang pandai Matematika—tanpa melihat nilai Bahasa Inggris Ceria yang sempurna. Karena itu, sepanjang hidupnya Ceria memaksakan diri untuk menjadi seperti Reina. Agar Mama dan Papa bangga. Agar ia tak perlu lagi dibayang-bayangi kesuksesan Reina. Agar hidupnya bahagia. Ceria bahkan memilih berkuliah di jurusan Matematika tanpa menyadari ia telah melepaskan sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Sesuatu yang membuat dirinya benar-benar bahagia.

--


Bagus. Aku beri nilai 3,5/5 bintang deh
Ceritanya cukup asyik dan cukup menggambarkan kegelisahan anak-anak dan remaja akan tuntutan orang tua dan orang-orang di sekitarnya.

Orang tua sering lupa bahwa anak bukanlah diri mereka. Setiap anak itu berbeda dan spesial. Setiap anak memiliki keahlian, minat, dan kesukaan masing-masing. Sangat tidak tepat jika kita menuntut hal yang kita inginkan (dan menurut kita terbaik) kepada anak kita, padahal mereka adalah bukan diri kita sendiri.

Hmmm...
Baca buku ini jadi teringat suatu hal.

Dulu aku pun menyukai Matematika dan eksakta lainnya. Suka. Unik. Menantang. Bahkan sempat berpikir untuk menekuni ilmu pasti ini. Tapi aku sadar bahwa aku tidak benar-benar menginginkannya dan tidak lagi menganggapnya paling utama.

Sekarang pun kalau aku membaca atau melihat kuis/pertanyaan/soal matematika di media sosial yang "katanya" susah dan cuma bisa dijawab oleh segelintir orang. Jika bisa menjawab maka bisa dikatakan jenius.

Terus terang, kadang aku muak melihatnya. Seolah-seolah cuma yang bisa menjawab adalah orang pintar sedangkan yang tidak bisa menjawab bukan termasuk golongan orang jenius tersebut.

Ah, mereka mungkin terlalu "sibuk" dengan kejeniusan sendiri sehingga tidak sadar bahwa orang pintar dan jenius itu ada dalam berbagai rupa, keahlian, tingkatan, kemauan, keinginan, minat, dan rasa bahagia.

Aku kagum dan respek dengan orang pintar. Namun, aku lebih tercengang dan lebih salut sama orang kreatif, baik hati, pintar bergaul, dan peduli alam serta sesama.

Memang aku akui, pendapat seperti ini masih banyak kita jumpai di sekitar kita.
*lha, malah curhat.

Oke deh, balik ke topik.

Cara penceritaan Happiness ini cukup asyik juga sih. Bagian awal aku menyukai cara penyajian konflik yang dialami oleh Ceria. Namun, semakin Ceria merasa tertekan, aku pun merasakan mood-ku agak menurun dalam menyelesaikan buku ini hingga aku pun melanjutkannya esok hari. Perasaan dan penderitaan yang dialami Ceria bisa dimaklumi.


Judul : Persona 
Pengarang : Fakhrisina Amalia 
Penyunting : Tri Saputra Sakti 
Desain Sampul : Orkha Creative 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2016 
Tebal 248 halaman 
ISBN 978-602-03-2629-0

*blurb* 

Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri. 

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu justru menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orangtuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.

--

Jujur, membaca sinopsis di sampul belakang buku ini gak terlalu menggugah minatku untuk langsung membaca buku ini. Aku menganggap kisah yang ditawarkan Fakhrisina hampir mirip dengan kisah segitiga remaja kebanyakan.
Namun, aku salah.
Konflik yang diceritakan dalam buku ini lebih daripada sekadar cinta segitiga ala remaja.
Membaca buku ini ternyata menyenangkan.
Walaupun baru beberapa bab awal aku bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi, namun tidak membuatku berhenti membaca buku ini. Twist-nya cukup asyik walaupun bisa aku terka. Mungkin karena pernah membaca dan menonton film dengan tingkah tokoh utama yang mirip dan petunjuk sang penulis yang terbaca olehku makanya aku menebak mungkin "itulah" yang terjadi.

Ternyata aku benar. Walaupun secara garis besar aku bisa menerka apa yang dialami oleh Azura, justru aku penasaran bagaimana penulisnya akan mengungkapkan hal tersebut. Hal ini yang membuatku masih tetap semangat membacanya.
Aku pun semakin penasaran bagaimana sang penulis mengeksekusi cerita seperti ini. Tentu saja rasa penasaran itu sangat ditunjang oleh keasyikan membaca buku ini karena Persona ini bercerita dengan sangat mengalir.

Hasilnya yang aku dapatkan setelah selesai membaca buku ini adalah "asyik".
Menurutku Fakhrinisa pawai menuliskan ceritanya tanpa harus menye-menye berlebih, aksi para tokoh yang lebay atau didramatisir, malah lebih terkesan nyata. Konflik dan permasalahan yang dialami oleh Azura sangat mudah mengundang simpati. Sungguh, aku merasa bersimpati terhadap Azura. Seolah-olah aku mengerti dan bisa memaklumi segala tindakan yang dia lakukan atas apa yang dia hadapi dalam keluarganya.
Tokoh Altair dan Nara pun sangat mudah disukai. Walaupun ada benih-benih cinta segitiga antara mereka, bukan berarti ada salah tokoh yang patut dibenci. Justru sosok Altair dan Nara memiliki porsi masing-masing yang sangt pas untuk Azura dan hidupnya.

Akhir kata, rasa penasaranku akan buku ini terbayarkan dengan rasa puas.
Good job.

Nilai 4/5