10 Oktober 2017

[Short Story] ALI Sang Penjahit


*alkisah sebuah cerita*


Dahulu kala, entah tahun berapa, seorang anak laki-laki merantau mencari kerja untuk menyambung hidup. Anak laki-laki itu bernama ALI. Dia tidak memiliki sanak keluarga yang bisa dia datangi atau membantunya dalam mengarungi hidup ini.

Ali sosok seorang anak laki-laki yang kurus dan tampak sakit karena beban hidup yang harus dia tanggung di umur semuda itu. Ali berumur 9 tahun kalau kamu ingin tahu.

Berbagai tempat telah ia datangi, namun tidak ada yang mempekerjakannya. Siapa sih yang membutuhkan tenaga seorang anak kecil yang (tampak) tidak mampu melakuka apa-apa?

Malam semakin larut, Ali pun merasa putus asa. Tanpa arah dia pun berjalan. Hujan deras mengguyur. Perutnya lapar. Badannya kedinginan.

"Ya Tuhan. Di mana kah aku bisa berteduh?" Ali merasa sangat sedih. Kaki lemahnya terus melangkah tanpa tujuan, hingga dia melihat tempat berteduh di depan kios penjahit yang (sepertinya) masih ada penghuninya. Lampu di dalam ruangan terlihat masih menyala. Mungkin ada orang baik hati mau memberinya pekerjaan, menumpang tidur hanya untuk malam ini, dan beruntung mendapatkan makanan.

Dengan hati yang penuh doa dan harapan, dia mengetuk pintu kios penjahit tersebut. Tampak plang nama penjahit "Tampan Taylor" dengan lampu yang semakin buram.
"Ah, mungkin lampunya akan mati beberapa hari lagi" Ali berpikir dan melanjutkan ketukannya ke pintu kios sang penjahit Tampan.

Bukan...
Bukan...
Ini bukan cerita "Tampan Taylor" yang pernah kalian saksikan filmnya atau baca bukunya. Ini adalah "Tampan Taylor" dalam kisah Ali yang akan mengubah hidup Ali untuk selamanya.

Ketika ketukan keenam, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari arah dalam. Ali merasa senang. Ada harapan untuknya. Dengan tatapan penuh harap, dia melihat seorang kakek tua membukakan pintu.
Mata sang kakek menunjukkan ekspresi terkejut dan iba melihat sesosok anak laki-laki yang masih kecil dan kurus tampak kedinginan, pucat, dan sakit.

Sang kakek penjahit (yang dulu tampan ketika masih muda) mempersilahkan Ali masuk. Sang kakek memanggil istrinya yang masih terlihat cantik (sejak muda sampai sekarang) dan menyuruhnya untuk mengambilkan handuk, selimut, dan makanan.

Tanpa bertanya apa pun kepada Ali, sang Kakek dan Nenek menyuruhnya mandi, berganti pakaian, dan menyuruhnya makanan.

Setelah Ali merasa hangat dan kenyang, Ali menceritakan kisah hidupnya kepada sang kakek dan nenek. Dia terus bercerita tanpa henti walaupun sang kakek dan nenek tidak bertanya apa pun kepadanya. Setelah mengucapkan rasa terima kasih yang sangat besar dan sungguh-sungguh, Ali memohon kepada sang Kakek dan Nenek untuk membiarkannya menumpang malam ini saja. Ali tidak memiliki tempat berteduh dan membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup.
Ali tidak ingin mengemis. Ali tidak ingin hidup dalam belas kasihan orang lain. Ali ingin mandiri dan mengubah nasibnya sendiri.

Sang Kakek dan Nenek dengan senang hati memberikannya tumpangan. Sang Kakek pun bercerita bahwa mereka sangat senang Ali mengetuk pintu mereka malam ini. Mereka sudah lama mendambakan anak, namun hingga usia lanjut, Tuhan belum memberikan mereka anak selama 40 tahun pernikahan mereka.
Sang Nenek pun mengatakan bahwa Ali mungkin anak yang dikirimkan Tuhan untuk mereka. Mereka bahkan meminta Ali menjadi anak mereka dan tinggal bersama mereka hingga mereka meninggal.

Ali tentu saja sangat gembira mendengar hal tersebut. Ali tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada sang kakek dan nenek. Air mata Ali tidak berhenti mengalir deras. Dia sungguh bahagia. Dia bersyukur kepada Tuhan atas berkah dan nikmat yang diberikan kepadanya.
Ali berjanji akan menyayangi mereka dan membantu pekerjaan di rumah, membantu Kakek dalam usaha menjahitnya, dan membantu Nenek dalam hal apa saja di rumah.

--

Kalau kamu bertanya dari mana sang kakek dan nenek memperoleh baju anak untuk Ali sedangkan mereka tidak memiliki anak seorang pun, maka aku akan memberi tahukan hal ini kepadamu. Sang kakek adalah seorang penjahit. Kebetulan sang Kakek sedang mengerjakan proyek seragam untuk anak Sekolah Dasar. Maka, satu pasang baju seragam yang sudah selesai dijahit, diberikan kepada Ali.
Ali sangat senang memakainya walaupun baju itu berwarna putih dengan celana merah.

--

Singkat cerita.

Ali hidup berbahagia bersama Kakek dan Nenek. Ali sangat menyayangi mereka, begitu pula sebaliknya.
Ali selalu membantu pekerjaan rumah dan bersemangat membantu kakek dalam menyelesaikan pesanan dari para pelanggan.

Ali ternyata menaruh minat yang sangat besar terhadap keterampilan menjahit. Jika sebelumnya Ali hanya membantu mengambilkan kain, benang, jarum, atau gunting, perlahan-lahan dia bisa membantu menggunting atau memasang kancing baju.

Sang kakek pun mengajarkan Ali cara menjahit.
Ali sangat cekatan. Hasil karya awal jahitannya cukup memuaskan. Cukup kuat walaupun belum rapi.

Sang kakek sangat senang, hingga dia sangat bersemangat mengajarkan Ali menjahit.

Enam tahun telah berlalu.
Ali sudah berumur 15 tahun dan sangat mahir menjahit. Hasil karya baju, celana, jas, atau busana yang dia hasilkan sangat bagus dan kuat.

Ketika sang kakek meninggal, Ali meneruskan usaha jahit sang Kakek ditemani sang nenek yang juga semakin lelah. Selang beberapa bulan, sang Nenek menyusul kakek ke alam baka.
Ali sangat sedih.

Ali mewarisi semua kekayaan sang Kakek dan Nenek, termasuk menerusakan usaha menjahit sang kakek.
Akhirnya, Ali mengganti nama "Tampan Taylor" menjadi "Ali Taylor".
Awal usaha Ali tidak begitu berhasil. Bahkan berbulan-bulan tidak ada satu pun pelanggan yang datang untuk menjahit pakaian kepadanya. Ali hampir putus asa, namun tidak akan menyerah. Demi kakek dan nenek. Demi masa depannya.

Akhirnya, suatu pagi di hari Minggu, datanglah seorang laki-laki dan perempuan yang berusia sekitar 17-18 tahun. Mereka akan lulus SMA dan ingin menjahit kemeja putih untuk acara kelulusan mereka.
Pemuda itu bernama Mizuki, seorang pelajar keturunan Jepang. Sedangkan yang perempuan bernama Santi, asli Jawa.
Dengan gembira Ali menyelesaikan pesanan kedua orang itu dalam waktu satu minggu. Dia menjahit dengan sepenuh hati dan melakukannya dengan penuh semangat.

Mizuki dan Santi sangat puas melihat hasil tangan Ali.
Mereka mengenakan kemeja buatan Ali dalam upacara kelulusan mereka. Mizuki dan Santi tampak gagah dan cantik dalam balutan pakaian yang dijahit Ali.
Semua mengagumi hasil karya Ali. Teman-teman mereka yang lain, bahkan para guru bertanya di mana mereka membuat baju yang sangat bagus tersebut.
Mizuki pun mengatakan bahwa dia membuat baju ini di sebuah kios jahit "Ali Taylor".

Mizuki mengatakan yang memiliki usaha itu adalah ALI-san. Dia pun mengatakan ALI-san sangat ramah, hasil jahitan pakainnya sungguh luar biasa.

Sejak saat itu, Ali kebanjiran pesanan pakaian. Ali tidak bisa mengerjakannya seorang diri. Akhirnya dia merekrut beberapa pekerja untuk membantunya.

Berkat Mizuki yang selalu memanggilnya ALI-san, kini Ali sangat sukses. Beberapa tahu kemudian, dia membuka pabrik pakaian dengan merk "ALISAN".
Bagi para pekerjanya dan para pelanggan awalnya, Ali lebih dikenal dengan julukan Ali-san. Semua berkat Mizuki.

Hingga kini, usaha Ali berkembang sangat pesat. Bahkan pakaian hasil karyanya sudah bisa kita temukan di outlet-outlet, butik, ataupun departement store. Siapa sih yang tidak mengenal pakaian dengan merk "ALISAN" yang murah dan berkualitas tersebut.

Aku yakin kamu tahu :)

---

the end - alias - TAMAT

--

Eh, kalau kamu bertanya-tanya apakah ini kisah sukses awal pakaian ALISAN yang identik dengan kemeja para pegawai kantoran?

Aku akan menjawab TIDAK.

Ini bukalah kisah sebenarnya tentang pakaian bermerk ALISAN.
Ini hanyalah rekayasa dan cerita karangan yang aku buat di sela-sela kebosanan.
Cerita ini terlintas ketika aku memakai baju ALISAN hari ini untuk ke kantor.

Namun, jika kamu tidak percaya dan orang yang kamu ceritakan juga tidak percaya. Terserah kamu sih. Yang penting aku sudah memberitahumu.

Katamu kisah ini inspiratif?
Boleh saja kamu beranggapan seperti itu. Suka-suka kamu. Aku titak melarang.

Kamu bilang cerita ini bagus, jayus, atau mengada-ada?
Terserah kamu juga sih.
Yang penting aku menuliskan cerita yang terinspirasi dari kisah yang tidak nyata saja sih.

Hahahaha...

Akhir kata, siapa pun yang membaca cerita ini semoga terhibur.
Jangan serius ah bacanya.
Lha, wong, aku menulis cerita ini dalam keadaan tertawa kok.

***maaf ya kalau jayus atau garing.
salam baju ALISAN :)


NB : Cerita ini aku buat tepat setahun yang lalu dan pernah aku posting di beranda Facebook-ku.
Sebuah cerita spontan yang dengan susah payah aku ketik di samrtphone.
Membacanya sekarang membuatku tertawa, "Bisa ya aku menulis cerita jayus seperti ini?"

24 Agustus 2017

[#cumangomong] Aku dan Hadiah Buku





Sebuah cerita tentang AKU dan BUKU.

Buku-buku yang ada di foto ini adalah sebagian dari buku-buku yang aku dapatkan dengan gratis (hadiah giveaway, voucher buku, dan kerjasama dengan beberapa penerbit untuk mengulas buku).
Aku katakan sebagian karena buku2 yang tampak di foto sekitar 1/3 dari jumlah buku yang aku dapatkan secara ‘gratis’ mulai awal tahun 2016 ketika aku memutuskan untuk kembali membaca buku dan menjadi #bookstagrammer yang mengubah akun IG ku menjadi #bookstagram.
Buku baru terus menerus terbit, baik local maupun buku di seluruh belahan dunia. Buku bagus akan selalu bermunculan. Buku-buku yang kita inginkan dan berada di deretan daftar “Wish lists” tidak akan pernah berakhir.


Kadang timbul keinginan untuk membeli semua buku tersebut, tapi kita sadar itu tidak mungkin. Waktu dan biaya tidak akan memungkinkan.
Tahun lalu termasuk dalam tahun paling produktif aku membaca dan membeli buku. Banyak buku-buku baru yang langsung aku pesan/beli begitu terbit. Namun, karena kebutuhan lain lebih banyak dan mendesak, hal ini tidak mungkin selalu aku lakukan.


Tahun 2017 ini aku lebih bisa menahan diri dalam membeli buku, baik buku baru maupun buku lama, walaupun keinginan membeli buku kadang selalu muncul. Lagi pula, buku-buku yang aku punya masih cukup banyak yang belum dibaca.

Ketika ada buku baru dan bagus akan terbit, akhir-akhir ini aku berpikir dan bertanya kepada diri sendiri sebelum membeli buku baru:


“Wah, ada buku baru dan bagus terbit nih.
Namun, apa buku ini akan langsung aku baca kalau sudah punya atau malah tertimbun?
Apakah buku ini harus langsung aku beli? Ada diskon PO sih, memang harga lebih murah, namun bisa aku tunda untuk beli kan?
Ingat, timbunan masih banyak, jangan terburu-buru dalam membeli sesuatu, dan masih ada stock bacaan.


Uang terbatas, tidak ada dana, dan walaupun dana ada masih ada kebutuhan yang lebih mendesak.

Ingat, buku ini gak akan hilang dalam waktu singkat di peredaran (took buku) hanya karena aku gak langsung membelinya.
Ingat, masih ada waktu dan kesempatan lain buatku dapat buku ini, kalaupun bukan dapat dengan harga murah, siapa tau dapat gratis.”


Aku sering mengatakan hal ini buatku sendiri ketika buku baru terus bermunculan. Kata-kata “siapa tahu dapat gratis” ini terdengar seperti pelit dan berkhayal ya. Tapi, setidaknya ini ampuh untuk mengendalikan diri dan nyatanya beberapa kali terbukti benar.
Bukannya pelit, tapi buku-buku ini bisa menunggu, sedangkan dana yang aku miliki terbatas, dan kebutuhan pokok sehari-hariku tidak.

Nah, untuk memenuhi keinginan akan buku baru inilah aku berpikir bahwa aku harus menemukan suatu cara atau langkah yang cermat agar bias terkabul. Aku memanfaatkan peluang yang ada agar bisa mendapatkan buku yang aku inginkan dengan biaya seminimal mungkin. Prinsip ekonomi banget.
Sekali lagi aku tekankan, bukan berarti pelit tapi karena buku yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan nanti, entah dengan nanti beli sendiri, tapi aku tahu mereka bisa menunggu asal mau bersabar, makanya harus bertindak lebih cerdas.

Jujur, selama ini aku bukanlah “GA hunter” atau orang yang sengaja mencari kuis untuk mendapatkan gratisan. TIDAK! Aku tidak memiliki waktu sebanyak itu. Informasi GA atau kuis atau tawaran kerjasama seringnya berdatangan secara tidak sengaja atau aku mendapatkan info dari teman. Ya, inilah salah satu keuntungan berkecimpung dalam suatu komunitas dengan minat yang sama
Jika ada yang menarik buatku, maka akan aku manfaatkan sebisa dan sesempat mungkin dan berusaha untuk perjuangkan. Memang, tidak selamanya aku menang, namun ketika menang perasaan itu ‘luar biasa’. 

Aku tidak pernah meluangkan waktu khusus untuk melakukan hal ini. Aku hanya memanfaatkan waktu senggang yang ada dan aku lakukan kalau sempat. Kalau gak sempat, ya sudah, lewatkan saja.
Makanya, sejak tahun lalu, buku-buku yang aku dapatkan secara gratis sekitar 75 buku lebih. Entahlah apakah sudah menyentuh angka 100 atau belum, belum pernah ‘benar-benar’ aku hitung. Buku-buku hadiah tersebut sebagian besar sudah aku bawa pulang ke rumah.


Sejak memutuskan bergelut dalam #bookstagram dan beberapa komunitas pencinta buku, aku tahu aku harus siap akan racun yang bertebaran di mana-mana.
Aku pun punya minat besar terhadap buku. Aku tahu bahwa aku harus berjuang untuk mereka
Namun, sekarang aku harus bersabar tidak harus langsung mendapatkan mereka. Mereka bisa menunggu dan aku yakin ada waktu yang tepat aku bisa mendapatkan mereka.


Mungkin ini bisa menjadi pemikiran buat kalian yang menginginkan buku incaran tapi terbatas budget.
Ingat, buku-buku itu tidak harus langsung kalian beli. Bersabarlah.
Jika kalian menginginkan sesuatu, beli lah alau mampu. Namun, kalua belum bias membeli, bersabarlah atau cari cara lain untuk mendapatkan buku tersebut.
Akan ada waktu dan kesempatan kalian bisa mendapatkan buku yang kalian inginkan, baik dengan cara membeli sendiri, membeli lebih murah, kalian dapatkan sebagai hadiah, atau diberikan secara cuma-cuma. Intinya jangan menyerah dan berputus asa.
Kalau kalian punya dana lebih untuk membelinya, itu tentu saja lebih menyenangkan lagi. Tinggal beli tanpa perlu memusingkan dana. Hehe.

Aku ingin mengatakan, aku cukup bahagia melakukan hal ini di waktu luangku dan aku bahagia “cukup handal” dalam hal ini karena bulan Agustus ini, aku mendapatkan 10 buku secara GRATIS dan beberapa sedang aku tunggu paketnya datang. Hehehe.

7 Agustus 2017

[Book Review] 3 in 1 Short Review Buku Jostein Gaarder (Penerbit Mizan)

Postingan kali ini aku ingin membahas secara ringkas tiga buku karya Jostein Gaarder yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan.
Jostein Gaarder dikenal dengan buku-buku yang mengandung filsafat sehingga kadang dibutuhkan pemikiran dan perenungan dalam membaca karya-karya beliau.

Ulasan singkat ini pernah aku tuliskan di akun instagram milikku @sulhanhabibi
Ulasannya sih benar-benar singkat, namun semoga siapapun yang membaca ulasan ini menjadi tertarik untuk  membaca karya-karya Jostein Gaarder.
Selamat membaca.



The Magic Library – Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken | Jostein Gaarder & Klaus Hagerup | Penerjemah Ridwana Saleh | @PenerbitMizan | Edisi Ketiga Cetakan Kedua Maret 2016 |284 Halaman | ISBN 9789794339244

“Setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan, jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan, segala yang aku baca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas. Selama beberapa saat, aku melongok ke dalam dunia buku yang fantastis dan berdaya magis.”

Dua orang sepupu, Nils dan Berit, tinggal di kota yang berbeda. Berkat ide seseorang, mereka mebuat buku-surat untuk berkomunikasi. Mereka secara bergantian bercerita dalam buku tersebut dan mengirimkan satu sama lain. Anehnya, tiba-tiba mereka merasa ada yang menginginkan buku-surat yang mereka tulis. Mereka mencurigai seorang wanita, yang diketahui bernama Bibbi Bokken, seorang yang menginginkan buku mereka, apalagi Bibbi Bokken pindah dan tinggal tidak jauh dari rumah Berit.

Melalui buku-surat mereka mengungkapkan kecurigaan dan penyelidikan yang mereka lakukan. Nils merasa ada lelaki botak yang sering membuntutinya. Merit pun melakukan penyelidikan terhadap Bibbi Bokken. Perlahan-lahan mereka mencurigai bahwa beberapa orang di sekitar mereka mungkin terlibat sebuah ‘konspirasi’ yang menyangkut buku-surat mereka dan proyek Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang ‘tidak sengaja’ mereka dengar. Mereka pun berencana mengungkapkan misteri ini karena mereka terlibat di dalamnya.

Buku ini bercerita tentang buku, perpustakaan, sejarah buku, penerbitan, ide, imajinasi, inspirasi, film perpustakaan, dan juga sebuah misteri dan cerita ala detektif. Cukup menyegarkan dan menyenangkan. Ide yang dituangkan dalam buku ini pun menarik. Aku suka Nils dengan imajinasi dan fantasinya. Aku pun suka Merit dengan kepandaiannya mencari informasi.

Awalnya aku mengira buku ini berisi hal-hal yang magis dan mengandung unsur fantasi, namun ternyata yang aku dapatkan berbeda jauh. Tapi, menarik. Sangat menarik. Terutama jika kalian ingin lebih banyak mengetahui tentang buku, kata-kata, imajinasi, ide, inspirasi, dan tentu saja mengenai perpustakaan.

Rating ★★★½



--oOo-- 




"Dunia Anna" karya Jostein Gaarder | @PenerbitMizan | Penerjemah Irwan Syahrir | 244 Halaman | Oktober 2014 | ISBN 9789794338421

Huaaahh...
*Hela nafas dulu setelah membaca buku ini

Buku kedua Jostein Gaarder yang aku baca ini lagi-lagi bertema berat yang disajikan dengan takaran berat namun kadang pula disajikan ringan.

Siapa sangka buku ini bercerita mengenai Global Warming? Setidaknya aku tidak menduga bahwa hal tersebutlah pokok utama yang dibahas dalam buku ini.

Bumi tahun 2082, Nova terkejut saat tiba-tiba di terminal online-nya muncul surat dari neneknya, Anna. Surat yang ditulis 70 tahun lalu, tanggal 12-12-2012. Tepat saat nenek buyutnya berusia 16 tahun seperti Nova saat ini.

Keseimbangan bumi terancam di tahun 2082. Jutaan spesies makhluk hidup sudah punah. Namun, ada kesempatan kedua yang katanya bisa diwujudkan/ diberikan lewat permohonan cincin rubi merah dari legenda Aladdin agar keseimbangan bumi bisa kembali lagi. Cincin yang dimiliki oleh Anna di tahun 2012.

Hmm..
Berat ya?
Buku ini membahas pula bahwa kita, manusia, yang hidup di masa sekarang ini bertanggung jawab kepada generasi masa depan terkait keseimbangan alam, ketersediaan sumber daya alam, dan semua hal yg menyangkut hajat hidup orang banyak.
Bahkan jika ingin menyelamatkan spesies di bumi, setidaknya kita harus membuat organisasi/penggalangan dana untuk masing-masing spesies.
Misal, pencinta Harimau menyumbang untuk kelestarian harimau, namun, apa dia peduli terhadap kelestariaan hewan lain, kodok misalnya? Padahal jika ada yg punah, keseimbangan alam bisa terganggu.

Well, kegelisahan Anna bisa aku rasakan.
Setidaknya buku ini pun membuatku berpikir ttg keseimbangan alam.
Namun, alih-alih berpikir berat seperti buku ini, aku menyederhanakannya dengan ikutan lewat apa yg kita bisa, bahkan lewat hal-hal kecil.

Contohnya: Tidak buang sampah sembarangan dan penghematan sumber daya, terutama listrik dan bahan bakar yg sangat dekat dengan keseharian kita.

Buku yang menarik.
Yuk kita jaga bumi kita ini.

Rating ★★★
 
 
--oOo-- 
 
 
Dunia Cecilia (Through A Glass, Darkly) karya Jostein Gaarder | @penerbitmizan  | Juni 2015 | 209 Halaman | ISBN 9789794338865
 
Hmmm...
*jernihkan pikiran setelah baca buku ini

Buku ini tentang dialog seorang anak yang sedang sakit keras, Cecilia, dengan seorang malaikat, Ariel, tentang manusia, dunia, dan surga.

Buku ini sempat membuatku benar-benar berpikir tentang manusia yang terdiri dari darah dan daging, indra manusia, pikiran dan perasaan manusia, mimpi, alam semesta, dan tentang penciptaan alam semesta.
Cukup berat.

Buku ini bagus.
Banyak dialog yang mengajak kita untuk merenung dan beetanya-tanya tentang hakikat dunia dan surga, dan penciptaan Tuhan (kalau mau berpikir sih). Cukup menarik.

Namun, beberapa hal memang berbeda dengan yang aku yakini dan ini sedikit tidak berpengaruh terhadap kenikmatan membaca buku ini. Bukan berarti aku tidak menyukainya.
Aku suka kok walaupun tidak sampai benar2 mengaguminya.

Salah satu kutipan yang aku suka dari buku ini adalah, "Alam semesta maupun surga adalah misteri akbar yang tak bisa dipahami manusia di bumi ataupun malaikat di surga. Tapi, ada yang tak benar di alam semesta ini. Ada cacat dalam keseluruhan rancangan agung ini."
.
.
Aku setuju kalimat pertama, namun tidak setuju dengan kalimat kedua dan ketiga. Tuhan Maha kuasa. Kalimat pertama mengatakan misteri yang tak kita pahami, namun bukan berarti kita berhak mengatakan ciptaan Tuhan tidak sempurna. Tuhan itu Maha segala-galanya. Kita saja yang tidak sampai pemikirannya ke sana.
Ini salah satu yang aku katakan berbeda dari yang aku yakini. But, it's OK.

Btw, kalau aku belajar filsafat, otakku berasap kali ya. Sedap sedap berat penasaran tapi khawatir gak kuat kalau mendalami fiilsafat itu bagiku. Hahaha.

Rating ★★★

22 Juni 2017

[Book Review] The Wolf in Winter (Serigala Di Musim Dingin) - John Connolly

The Wolf In Winter - Photo by @sulhanhabibi


The Wolf in Winter (Serigala Di Musim Dingin) – John Connolly
Judul Asli : The Wolf in Winter
Penulis : John Connolly
Alih Bahasa : Julanda Tantani
Editor : Rosi L. Simamora
Desain Sampul : Eduard Iwan Mangopang
Cetakan Pertama Maret 2017
600 halaman
ISBN 978-602-03-3932-0


**Blurb**

Masyarakat di Prosperous, Maine, hidup makmur ketika daerah-daerah lainnya menderita. Para penduduknya kaya, masa depan anak-anak mereka cerah. Kota ini sangat tertutup dan tidak menerima pendatang. Di jantung kota Prosperous ada reruntuhan gereja kuno yang dibawa batu demi batu dari Inggris, berabad-abad silam, oleh para pendiri kota itu.

Charlie Parker, si detektif swasta, datang ke Prosperous ketika seorang tunawisma tewas dan anak perempuannya hilang. Parker berbahaya, penuh amarah dan hasrat membalas dendam. Sosoknya menyimpan ancaman lebih serius dibandingkan apa pun yang pernah dihadapi para penduduk kota itu dalam sejarah mereka yang panjang, nyaman, dan terlindung. Dan di kota kecil ini Parker akan berhadap-hadapan dengan lawan-lawan paling keji.

Charlie Parker telah ditandai untuk mati supaya Prosperous bisa bertahan berikut rahasia yang tersembunyi di bawah reruntuhannya.

---

Kisah yang disajikan dalam The Wolf in Winter (Serigala di Musim Dingin) ini dimulai dengan perburuan Charlie Parker bersama Angel dan Louis, dua sahabatnya, memburu Sang Kolektor karena peristiwa yang tidak terduga yang terjadi di buku sebelumnya The Wrath of Angels (Murka Para Malaikat).

Dalam upaya perburuan akan Sang Kolektor yang selalu berpindah tempat, terjadi suatu kejadian di sebuah kota yang makmur dan tertutup akan dunia luar. Kota Prosperous.

Kota Prosperous adalah kota yang ‘jahat’. Para penduduknya sangat tertutup. Mereka memiliki kepercayaan tua dan Tuhan mereka adalah Tuhan yang lapar. Konon katanya, Tuhan yang lapar lebih berbahaya dibandingkan Tuhan yang marah.

Pengurus kota dipilih oleh Dewan yang hanya beranggotakan lima orang. Merekalah yang menentukan dan memutuskan segala hal yang berkaitan dengan Prosperous. Penduduknya terikat oleh pengabdian dan tidak boeh menyebarkan informasi apapun kepada pihak luar. Walaupun ada penduduk Prosperous yang meninggalkan kota, maka mereka dipastikan tidak menceritakan hal apapun tentang kota tersebut. Jika kau membuat masalah, maka seisi kota akan menjadi lawanmu dan bisa saja kau akan lenyap begitu saja atau mati di suatu tempat.

Kota-kota di seluruh wilayah ini perlahan-lahan mati, semua kecuali Prosperous. Sekarang kota itu menderita, tetapi tidak seperti kota lainnya, Posporeus terbungkus, terlindungi. Prosperous menyedot kehidupan dari kota-kota sekitarnya, dan menyerap semuanya.

Ketika Charlie Parker mendatangi Properous untuk menyelidiki kematian seorang Tunawisma dan anaknya yang hilang karena adanya bukti dan saksi yang menyatakan bahwa mereka datang ke kota tersebut. Charlie Parker memiliki daya tarik terhadap masalah. Kota Prosperous tidak siap akan kedatangan Parker. Oleh karena itu, ketika bertemu dengan polisi kota, pendeta, dan pemimpin kota Prosperous untuk pertama kalinya membuat Parker merasa ada aneh dan sesuatu yang ‘jahat’ tentang kota ini. Dia pun melakukan penyelidikan dengan insting dan nalurinya yang tajam, serta dengan kemampuan investigasi yang memang tidak diragukan lagi.

Akibat kecurigaan Parker, Dewan Prosperous memutuskan dia harus mati karena mengancam keberadaan Prosperous. Akibatnya, Parker harus berjuang hingga titik terlemah dalam hidupnya. Namun, tentu saja Parker tidak pernah sendirian. Ada teman-temannya yang jauh lebih berbahaya dari Parker sendiri.

Duka dan derita Charlie Parker kembali terasa di sini. Apalagi ketika insiden terjadi kepadanya. Sangat mudah untuk selalu bersimpati kepada Parker dan akan beban masa lalu yang masih selalu ditanggungnya.

Membaca kemunculan beberapa tokoh dari buku sebelumnya tiba-tiba menimbulkan rasa kangen. Tanpa sadar aku merindukan kemunculan dan peran serta mereka dalam kisah ini walaupun tidak besar. Ada Epstein, Liat, Eldrich, Fuccini bersaudara. Bahkan kisah Sang Kolektor dan beberapa tokoh pendamping sangat ingin aku ketahui lebih banyak lagi.

Awalnya bingung mau beri 4 atau 5 bintang. Tapi, karena ngefans aku beri 4,5 bintang saja walaupun inginnya Charlie Parker berperan lebih banyak lagi menyelesaikan permasalahan di Prosperous.

Aku merasa bahwa Charlie Parker sequence ini semakin bagus. Buku selanjutnya lebih bagus daripada buku sebelumnya. John Connolly pawai bercerita.
Buku selanjutnya pun selalu menimbulkan rasa penasaran dan berharap bukunya lebih tebal lagi (bagiku).
I want more!
I want more!
Aku selalu merasakan hal ini setelah selesai baca seri Charlie Parker.

Ada kutipan keren nih dari tokoh *antagonist* di buku ini.

"Menurutku dia (Charlie Parker) tidak takut mati. Dia tidak mencari kematian, dan dia akan bertarung sekuat tenaga untuk menghindarinya, tapi dia tidak takut.

Menurutku dia hidup dalam kepedihan. Dia sangat terpukul akibat kehilangan istri dan anak perempuannya, dan peristiwa itu membuatnya menderita. Jika kematian pada akhirnya datang menjemputnya, hal itu akan mengakhiri kepedihannya.
Sebelum saat itu tiba, apapun yang dilakukan seseorang terhadap dirinya takkan menjadi lebih buruk daripada apa yang pernah dialaminya. Itu menjadikannya musuh yang tangguh, karena dia sanggup bertahan melebihi lawan-lawannya. Dan hal-hal yang pernah dilakukannya, risiko-risiko yang pernah diambilnya untuk pihak lain, semua itu memberinya sekutu-sekutu, dan beberapa dari mereka bahkan lebih berbahaya daripada dirinya, karena mereka tidak memiliki moral yang sama seperti dia.
Jika detektif itu mempunyai kelemahan, itu adalah karena dia bermoral. Kapan pun dimungkinkan, dia akan melakukan hal yang benar, adil, dan seandainya dia salah, dia akan menanggung kesalahan itu."
- Halaman 373-374.

Kutipan ini adalah perkataan seorang *antagonis* dalam buku ini dan aku sangat menyukainya. Kalimat di atas mewakili karakter Charlie Parker yang sangat aku sukai. Penghormatan kepada Parker bahkan oleh musuhnya sekalipun

Charlie Parker adalah orang yang akan peduli ketika tidak ada orang lain yang peduli akan nasib atau akan menolong orang tersebut.

Aku penasaran akan peran Charlie Parker ke depannya terkait aliran-aliran penganut tua yang banyak jumlahnya dan semuanya berbahaya. Aku pun penasaran akan kemampuan Charlie Parker berkomunikasi dengan arwah orang-orang mati.

---

Perkenalan pertamaku dengan karya-karya John Connolly adalah buku pertama seri/sequence Charlie Parker yang berjudul “Every Dead Thing – Orang-Orang Mati” yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2011 yang membuatku langsung jatuh cinta. Aku membaca seri Charlie Parker sejak Desember 2016. Sejak saat itu, aku memburu karya-karya John Connolly untuk aku baca dan juga koleksi. Syukurlah aku memiliki semua terbitan GPU dengan lengkap, walaupun menyayangkan GPU tidak menerbitkan semua seri Charlie Parker ini.

The Wolf in Winter adalah buku ke dua belas dalam sequence Charlie Parker, namun merupakan buku keenam yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Bagi kalian yang menyukai genre thriller dengan kisah criminal, detektif, dan ada unsur supernaturalnya, sayang sekali kalau kalian belum membaca kisah Charlie Parker ini.


Rating

 ★★★★1/2